Wakil Gubernur

Wakil Gubernur

Andi Sudirman Sulaiman
 
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan
Petahana
Mulai menjabat 
5 September 2018
Presiden Joko Widodo
Gubernur Nurdin Abdullah
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla
Pendahulu Agus Arifin Nu’mang
Informasi pribadi
Lahir Andi Sudirman Sulaiman
25 September 1983 (umur 35)
 Kabupaten BoneSulawesi SelatanIndonesia
Partai politik Independen
Pasangan Naomi Octarina
Hubungan Andi Amran Sulaiman (kakak)
Ibu Andi Nurhadi Petta Bau
Bapak Andi B. Sulaiman Dahlan Petta Linta
Alma mater Universitas Hasanuddin
Profesi Insinyur

Andi Sudirman Sulaiman (lahir 25 September 1983; umur 35 tahun)] merupakan adik dari Andi Amran SulaimanMenteri Pertanian Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014–2019. Dirinya dikenal sebagai Calon Wakil Gubernur Sulawesi Selatan pada Pilkada 2018 mendampingi Nurdin AbdullahBupati Bantaeng periode 2018–2023.

Daftar isi

Latar belakang

Andi Sudirman Sulaiman lahir dan menghabiskan masa remajanya di Kabupaten Bone.[ Ia lahir pada 25 September 1983. ASS merupakan anak ke-11 dari 12 bersaudara. Ayahnya adalah anggota TNI sekaligus seorang petani. Sedang ibunya dalam keseharian menjadi ibu rumah tangga (IRT).

Pendidikan

SD hingga SMA

Ia mengawali jenjang pendidikannya di SD Inpres 10 73 Mappesangka, Bone (1989–1995), SLTP Negeri 1 (Ujung Lamuru) Lappariaja, Bone, (1995–1998), dan SMU Negeri 1 Watampone (1998–2001).[Sejak di SMP, jiwa kepemimpinannya sudah muncul melalui aktif mengikuti berbagai organisasi. Tahun 1994, ia menjabat sebagai Ketua Bina Damping Putra Pramuka SLTP Negeri 1 Lappariaja. Kemudian, Ia juga menjadi Ketua Terpilih Dewan Ambalan Putra Pramuka SMA Negeri 1 Watampone (2000). Pada tahun yang sama, ia menjabat ketua OSIS SMA Negeri 1 Watampone. Masih pada tahun 2000, ia juga menjabat Ketua MPK (semacam dewan legislatif pelajar) di SMA Negeri 1 Watampone. Masih pada tahun 2000, ia juga mendirikan Organisasi Rohani Islam (Rohis) di almamaternya (SMA Negeri 1 Watampone) dan organisasi Siswa Pecinta Alam (Respon–Sispala) di Watampone.

Teknik Mesin Universitas Hasanuddin

Pada tahun 2001, setamat sekolah SMA, Andi Sudirman melanjutkan studinya di Universitas Hasanuddin (Unhas) di MakassarSulawesi Selatan. Di perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur ini, Andi Sudirman berhasil lolos di Fakultas TeknikJurusan Teknik Mesin. Pada tahun 2002, dia mendirikan organisasi pemuda dengan nama “Forum Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa (FPPM) Mappatunru”[ yang bermarkas di Kabupaten Bone dan organisasi ini cukup fenomenal. Hanya kurang lebih setahun sejak berdirinya, organisasi ini telah mampu menghimpun lebih dari 200 anggota dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi dan menjadi salah satu organisasi kepemudaan yang cukup diperhitungkan di Kabupaten Bone. Pada semester enam (2004) di Fakultas Teknik Unhas, Andi Sudirman berhak atas beasiswa dari sebuah perusahaan ‘Thiess Indonesia’. Sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang penyedia jasa pertambangan yang terbesar di dunia lewat Australia Graduate Scholarship. Andi merupakan satu dari 15 mahasiswa se-Indonesia termasuk perwakilan dari UIITBITSUGM dan universitas-universitas besar lainnya.

Andi Sudirman berhasil lulus di sana dengan beasiswa yang cukup mencengangkan bagi mahasiswa seusianya yakni Rp. 10 Juta ketika SPP per semester sekitar Rp. 360 Ribu pada saat itu. Dengan beasiswa sebesar Rp 10 juta itu, kehidupan Andi Sudirman mengalami lompatan dahsyat. Namun realitas itu tak membuat cara hidup Andi Sudirman berubah. Ia tetap seorang Surdirman yang dulu. Yang menjalani hidup penuh dengan kesederhanaan. Tidak ada yang berubah dari kehidupannya selain tanggung jawabnya yang sudah sedemikian besar.

Persyaratan untuk tetap memperoleh beasiswa dari ‘Thiess Indonesia’ memang lumayan berat, yakni rerata minimal IPK 3,0 harus dipenuhinya dan tidak boleh mendapatkan nilai E setiap mata kuliah serta IPK tidak boleh turun dari semester lalu ke semester berikutnya. Tuntutan kondisi seperti ini tidak menjadikan Andi Sudirman kedodoran dengan waktu. Kemampuannya untuk memanajemeni serta mengatur waktu antara aktifitas keorganisasian dan kuliah yang diperolehnya dari masa-masa bangku sekolah kini sangatlah berguna. Tidak mengherankan, hanya dalam waktu 3 tahun 8 bulan, Andi Sudirman mampu menyelesaikan masa kuliahnya. Dialah mahasiswa Teknik Mesin yang tercepat selesai di angkatannya waktu itu. Hal ini merupakan prestasi tersendiri, mengingat dalam kondisi normal, seorang mahasiswa harus bergelut selama lebih 4 tahun untuk mampu menyelesaikan jadwal kuliah di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Andi juga berhasil masuk dalam nominasi Lomba PKMT yaitu “Perancangan Pembangkit Listrik Arus Laut” yang diselenggarakan oleh Dikti RI 2005.[

PT Thiess Indonesia

Setelah menyelesaikan studinya di Unhas, Andi Sudirman langsung merambah dunia profesional. Di perusahaan Multinasional ‘Thiess Indonesia’ dia memulai kariernya. Persentuhannya dengan tenaga kerja ahli dari barat banyak memberi pelajaran berharga bagi dirinya. Di sini, Andi Sudirman memiliki banyak kesempatan mengembangkan keahlian serta kecerdasan yang telah diasahnya sejak kecil hingga kuliah dulu. Karena kemampuan berpikir out of the box yang dimilikinya, karier Andi Sudirman melejit. Kemampuannya membangun sistem dan mengimplementasikannya dalam produk kerja membawa Andi dipercayakan dan terlibat dalam mengelola proyek investasi asing senilai ratusan triliun di seluruh wilayah kerja PT Thiess. Dengan usia yang demikian muda namun kepercayaan dan tanggung jawab yang telah mampu diembannya di proyek gas salah satu perusahaan terbesar di dunia ini (ConocoPhillips Amerika SerikatHyundai Korea Selatan-Thiess Australia) menjadikan sosok Andi Sudirman benar-benar telah matang dalam dunia profesional.

PT Petrosea

Kematangan profesional inilah yang menjadikan Andi Sudirman sangat menyukai tantangan. Dalam dirinya, Andi Sudirman membentuk watak yang sangat kuat untuk terus menjajal keahliannya, terutama di bidang Migas. Maka selepas dari ‘Thiess Indonesia’, dia kemudian merambah dari satu perusahaan multinasional ke perusahaan multinasional lain. Hingga akhirnya ia masuk ke perusahaan migas multinasional asal Australia yaitu Petrosea. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa kontrak pertambangan, engineeringproject management serta oil and gas service. Di Petrosea, dalam usia masih di bawah 27 tahun, Ia mengemban amanah day to day Construction Manager dengan metode berpikir yang selalu berbeda dan jitu.

Sebagai contoh ketika Andi berhasil menunjukkan kemampuan berpikir out of the box dalam menyelesaikan proyek giant water tank painting/ finishing di konstruksi pabrik emas. Normalnya penyelesaikan menggunakan perancah (Scaffolding) kemudian Andi mengganti dengan menggunakan Crane plus man-basket & rigger sebagai hold back. Andi kemudian menguji metode ini dalam hitungan pump back pressure engineering during blasting, crane load, man-basket safety & stability sukses dan berhasil diaplikasikan. Proyek painting yang semula estimasi painting pengerjaan 2-3 bulan bisa diselesaikan dalam kurung waktu kurang dari seminggu dan mampu menghemat biaya hinga lebih 50% estimasi. Metode ini termasuk metode baru saat itu dan melalui proses approval consultant Australia (CMS) sebelum eksekusi. Di sinilah Andi Sudirman dipercayakan menduduki jabatan jabatan strategis sebelum akhirnya berlabuh di perusahaan Inggris PT Offshore Services Indonesia/ MES.

PT Offshore Services Indonesia/MES

Andi menjadi orang Indonesia pertama menjabat sebagai Deputy dan Project Manager proyek DP2 DSV saturation dan air diving berbendera Indonesia. Andi membawahi langsung kapa DP2 built in saturation diving membawahi lebih dari 60 tenaga asing asal InggrisRusiaIndia, dan lainnya. Andi memperoleh sertifikat keahlian sebagai ahli utama yang bila disandingkan dengan jabatan struktural di birokrasi maka sama dengan pejabat eselon 1. Bisa dibayangkan dalam usia yang baru menginjak 33 tahun, Andi Sudirman telah berada di puncak kesuksesan seorang profesional.